Media Aswaja

Menghadapi Orang Yang Selalu Membid’ah Orang Lain

Memang betul “kullu bid’atin dholalah”, Bid’ah itu sesat. Tapi apasih yang dimaksud Bid’ah itu? Yang dimaksud Bid’ah oleh Rasulullah di bahas dalam kitab fiqih dalam bab tahqiqul manath. Apa Bid’ah itu? Apakah Bid’ah itu yang dimaksud baru? Ya, itu Bid’ah menurut bahasa, maka dari itu seluruh para ulama membuat suatu yang namanya Definisi.

Definisi Bid’ah itu bukan berarti apa yang tidak dilakukan Rasulullah berarti Bid’ah.

Ketika kita bertanya kepada orang yang selalu membid’ahkan seseorang maka kita harus bertanya dulu apa definisi Bid’ah menurut anda?

Contoh suatu dialog:

A: Hey, ini tidak boleh dilakukan ini namanya Bid’ah!

B: Definisi Bid’ah menurut ente itu apa?

A: Apa yang tidak dilakukan Rasulullah berarti Bid’ah!

B: Terus kenapa masnya pake mobil? Sedangkan Rasulullah tidak pernah menggunakan mobil..

A: Itukan yang dimaksud urusan agama bukan urusan dunia.

B: Pernah Nabi ngomong dunia? Kan Nabi hanya bilang kullu bid’atin bukan kullu bid’atin fiddunya wal akhirat.

Darimana kita dapat membedakan akhirat dan dunia? Maka disini kita perlu Definisi bahkan ada belasan definisi dan definisi ini tidak pernah di umbar oleh orang-orang yang selalu membid’ahkan orang lain dengan kalimat “semua yang tidak dilakukan Nabi adalah bid’ah” itu bukanlah definisi tetapi hanya reka-reka.

Maka dari itu kita perlu melihat pendapat ulama mengenai apasih yang dimaksud Bid’ah menurut Rasulullah.

Inilah definisi dari Bid’ah:

Biannaha toriqotun fiddini mukhtaroatun tudhoohisyariata yuqshodu bissuluki a’laihalmubalaghotu fitta’abbudillahi ta’ala.

Yang artinya : Sesungguhnya bid’ah itu adalah jalan di dalam urusan agama yang dibuat-buat yang menyerupai syariat agama, dengan mengerjakan jalan tersebut mempunyai tujuan menyangatkan/mengepolkan di dalam urusan ibadah kepada Allah Yang Maha Luhur.

Contoh:

“Ketika ada seorang yang bangun di subuh dan setelah sholat ia terlalu bersemangat dan melakukan sholat lagi hingga sholat ke 6 karena saking semangatnya sehingga berlebihan” . Nah! Inilah yang di maksud Bid’ah yang sesat.

Akan tetapi jika ada orang yang melakukan suatu amalan atau yang mengada-ada dan tidak bisa di kembalikan ke Quran dan Hadits maka inilah yang sesat, tetapi jika bisa di kembalikan ke Quran dan Hadits ini namanya bukan Bid’ah lagi, karna bukan mengada-ada dari tidak ada menjadi ada.

Misalnya Dzikir, dzikir bersama ada yang bilang Bid’ah, lah? kok dzikir Bid’ah? Nabi menyuruh berdzikir kok dan Nabi tidak membatasi dzikir bersama atau dzikir sendirian, tapi kenapa kok dzikir bersama jadi haram sekarang? Nabi suruh kita untuk berdzikir, Nabi menyuruh membaca sholawat. Apakah ada Nabi mengatakan bersholawat sendiri-sendiri?

Maka dari itu kesimpulannya ketika kita ketemu dengan orang dengan model seperti ini dan anda sudah menyebutkan dalilnya dan tetap tidak percaya maka tak apa, itu urusan dia. Kita tidak bisa memaksa orang, saya hanya menyebutkan dalil nanti di hadapan Allah kita akan di perlihatkan apa yang telah kita perselisihkan. Wallahu a’lam bish-shawab.

Wahyudi

Add comment

Follow Kami

Jangan lupa follow juga social media kami.

Most popular